Apa yang akan kita lakukan jika kita disuruh mengangkat batu semampu kita? mungkin di antara kita ada yang cukup mengambil batu yang ringan karena merasa kuatnya hanya segitu. Atau mungkin ada yang mengambil beberapa batu yang agak berat karena merasa kuatnya juga segitu. Adakah yang mengambil batu yang berat meskipun sebelumnya gak yakin kuat tapi akhirnya dicoba ternyata dia kuat meskipun memang sangat terasa beratnya, tapi dia berusaha semaksimal mungkin, mengoptimalkan kemampuannya.
Ada contoh lain. Dalam sebuah acara mukhoyam sekelompok, sang instruktur memerintahkan para peserta untuk berlari mengelilingi lapangan semampunya. Maka mereka pun berlari, setelah banyak putaran satu persatu peserta mulai berhenti kecapekan. Hingga tinggal seorang peserta yang masih terus berlari sedangkan teman-temannya yang lain sudah istirahat. Peserta itu terus berlari mengelilingi lapangan sampai akhirnya dia jatuh pinsan. Setelah siuman dia ditanya kenapa dia terus berlari sampai pinsan. Dia menjawab, dia melakukannya sesuai instruksi yakni berlari semampunya, dan dia menganggap batas kemampuannya adalah sampai dia benar-benar ga kuat atau pinsan itu.
Itulah contoh seorang yang optimis. Setiap muslim, khususnya seorang aktifis dakwah harusnya memiliki sifat ini. Sifat untuk senantiasa bersemangat dalam setiap aktivitas dan dalam mencapai tujuan. Optimis juga berarti tidak putus asa dalam mengahadapi rintangan dan hambatan yang menghadang. Optimis juga berarti kreatif memunculkan ide-ide baru yang membangun, tentunya gak sekedar ngomong tapi juga bertekad melaksanakannya. Optimis berarti berikhtiar secara maksimal dan ikhsan. Tetapi optimis bukan berarti semangat yang berlebihan hingga tidak sabar dan nabrak sana sini. Optimis tetap perlu kesabaran dan tawakal, karena Allah yang menentukan bagaimana hasilnya nanti. Dan optimis juga harus diawali dengan niat yang ikhlas agar tetap istiqomah dan tidak berubah menjadi pesimis di tengah jalan.
Optimis berarti berusaha semaksimal mungkin dalam mencapai target atau standart ideal. Bukan berarti trus kita nantinya dikatakan idealis. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Dan realita memang tidak semuanya biasa sesuai dengan idealita. Tapi sejauh mana dan sekeras apa kita berusaha mencapainya. Adanya profil-profil ideal dan visi misi yang jelas bisa menjadi tolak ukur dan memperjelas arah tujuan kita, hidup ga skedar mengalir begitu saja. Dengan standar idealita kita bisa mengetahui posisi kita dimana dalam standar tersebut dan bisa terpacu menjadi lebih baik lagi.
Maka janganlah kita menjadi seorang muslim yang under ustimate, melemahkan potensi diri dan merasa cukup “biasa saja”. Apakah kita tidak ingin menjadi generasi unggulan? Apakah kita cukup mengatakan “Ah, ga usah ikut-ikutan ngaji deh, yang penting sholat, puasa, dah cukup”. Atau “Ah, ga usah ikut-ikutan dakwah deh, dah banyak koq, yang penting ikut tarbiyah, ngaji dah cukup deh” dsb. Ketika kita dapat amanah, apakah tanpa alasan yang jelas kita akan menolaknya “Afwan, saya ga bisa itu, yang lain aja deh!” atau
”Afwan ana lagi sibuk nih, ga punya waktu” Sebatas apa kemampuan kita?
Wallahu a’lam bishowab
Quis: Ada yang bisa nebak ga,siapa nama tokoh yang dicontohkan di atas, yang berlari sampai pinsan itu?
assalamualaikum…wah!begitu besar untuk menjadi seorang daie yg success.memerlukan semgt yg jitu dan tidak kenal erti putus asa..Daei yg sebenar adalah daie yg lebih byk memberi daripada menerima…insyallah tidak silap ana nama tokoh di atas Abdullah bin Azzzam…sebagai perkongsian bersama..