Ada pertanyaan menarik dari seorang adik. ”Mbak, apakah kalo kerja itu ada peraturan untuk mendekin jilbab? Koq saya lihat banyak akhwat-akhwat yang setelah bekerja mereka memendekkkan jilbabnya, meskipun tetap nutup dada tapi jilbabnya jadi tambah pendek, ketat dan modis, jauh dari penampilan mereka ketika di kampus dulu.”
Ada yang mau menjawab?
Tergantung dimana akhwat itu bekerja dan bagaimana pula akhwat itu tetap istiqomah di tempat kerjanya. Selama ini alhamdulillah saya ga bermasalah dengan jilbab lebar di tempat kerja. Tapi mungkin di tempat lain beda kondisinya. Tapi yang jelas, diri kita adalah pemimpin bagi diri kita, jadi pilihan ada pada diri kita sendiri.
Di tulisan-tulisan sebelumnya, ”Lulus=Futur?”, ”Luntur karena Futur” dan beberapa tulisan yang lain (lupa judulnya), coba dibuka lagi, sudah sering membahas tentang banyaknya aktifis dakwah yang futur setelah lulus. Banyak yang menjadi luntur, bukannya mewarnai tapi malah terwarnai oleh kondisi di sekitarnya.
Ketika di kampus, kita bisa merasa save karena banyak temen seperjuangan, sepemikiran. Ketika kita pulang ke rumah atau terjun ke masyarakat ketika udah lulus, saat itulah teruji keistiqomahan kita. Bagaimana kita tetap istiqomah dalam menjaga prinsip-prinsip Islam dan istiqomah tetep berada dalam jalan dakwah meskipun di lingkungan itu kita hanya punya sedikit temen atau bahkan kita menjadi satu-satunya, bismillah, jadi perintis dakwah
Beberapa waktu yang lalu saat mampir ke masjid kampus tercinta, senengnya melihat adek-adek akhwat yang berjilbab lebar meskipun mereka masih belum lama jadi mahasiswa dan belum lama juga beraktivitas di dakwah kampus mereka begitu semangat menjadi panitia penyambutan mahasiswa baru di LDK dan kajian jurusannya. Dalam hati saya berdo’a, semoga mereka bisa tetep istiqomah sampai kapanpun.
Memang seringkali dijumpai, banyak akhwat yang dulunya ketika di kampus berjilbab lebar, bergamis atau pakai rok lebar, tiba-tiba setelah lama ga ketemu setelah lulus menjadi beda penampilannya. Jilbabnya jadi semakin pendek, ada yang dililit ke belakang, ada yang model sobekan (sekarang ga hanya rok atau celana ya yang model disobek, ada model jilbab terbaru, jilbab sobekan, he..he..), ada yang pakai celana bahkan ada yang pacaran, na’udzubillah. Ada yang sudah tak lagi mau memegang amanah dengan alasan sibuk, dan bahkan tak jarang di antaranya yang tak lagi ngaji.
Ada pula yang sekenanya aja dalam bekerja, tak peduli lagi mana yang halal dan mana yang haram. Ikut terlarut dalam korupsi mulai kecl2an sampai besar2an. Ada banyak uang basah di sekitarnya, bagaimana menyikapinya? Mungkin ada yang awalnya diem aja, “Yang penting bukan aku yang korupsi”, lama kelamaan “Gpp wis, ntar dibersihkan hartanya”. Emang semudah itu? Padahal uang yang kita hasilkan dalam bekerja akan kita makan bersama keluarga kita, akan mendarah daging dalam tubuh kita, apakah kita akan membiarkan ada sesuatu yang haram masuk ke dalam tubuh kita atau keluarga kita meskipun itu sedikit?
Jadi teringat crita seorang akhwat yang habis lulus dari kuliahnya di akutansi. Memang banyak lowongan di bidang akutansi tapi cari yang bener-bener halal ternyata susah. Pernah suatu ketika saat sedang wawancara kerja, akhwat itu ditanyai, “Bersedia tidak membuat laporan manipulasi?” Kontan aja akhwat itu menjawab “Maaf pak, saya tidak bersedia, saya ingin bekerja dengan jujur” Akhwat itu bersyukur meskipun dia tidak diterima disitu.
Ada banyak crita juga banyak akhwat yang ketika nglamar bekerja di perusahaan-perusahaan, mereka disyaratkan untuk melepas jilbabnya atau memendekkan jilbabnya ada pula yang mensyaratkan harus pakai celana. Apakah demi mendapatkan pekerjaan seorang akhwat akan menurutinya?
Ada banyak pula perusahaan yang mensyaratkan pekerjanya harus siap lembur, ada pula yang memberlakukan sift malam jam 20.00 sampai 03.00 pagi, apakah akhsan seorang akhwat bekerja seperti itu? Apakah demi mendapat pekerjaan atau uang atau alasan yang lain seorang akhwat akan menyanggupinya?
Kalau lihat fenomena2 ikhwah di atas, dalam hati bertanya, kemana idealisme dan prinsip-prinsip yang mereka dengung2kan selama ini. Apakah jika status mahasiswa tidak lagi disandang, prinsip-prinsip Islam juga tak lagi ditegakkan? Koq bisa ya? Sebenarnya akar permasalahannya dimana? Dan bagaimana solusinya supaya kader yang sudah lama terbina, yang sebelumnya militan tetep jadi kader militan sepanjang masa dan tak jadi luntur setelah lulus?
Kembali pada tarbiyah. Memang, tarbiyah bukan segala-galanya tapi segala-galanya bisa berawal dari tarbiyah. Coba, ditelusuri, para ikhwah yang bermasalah tadi, yang menjadi luntur atau futur tadi, bagimana dengan tarbiyah atau pembinaan mereka, sehat atau tidak? Tarbiyah tidak sekedar transfer materi dari murobi ke mutarobi. Tarbiyah merupakan proses Tansyi’ah (Pembentukan), Ar-Riayah (Pemeliharaan), At-Tanmiyah (Pengembangan), At-Taujjh (Pengarahan) dan At-Tauzif (Pemberdayaan).
Buat adik-adikku yang masih di dakwah kampus, tetaplah istiqomah dan kumpulkan bekal sebanyak mungkin dan kuatkan ruhiyah kalian untuk menghadapi dunia pasca kampus nanti. Kuatkan tarbiyah, pererat ukhuwah. Manfaatkan ‘waktu emas’ kalian selama di kampus. Kampus ibarat ‘kawah candradimuka’ untuk membekali diri terjun di kancah dakwah yang sebenarnya ketika kalian lulus nanti.
Buat saudara-saudaraku yang telah lulus, tetaplah istiqomah dalam tarbiyah dan dakwah. Tidak ada namanya pensiun atau lulus dari dakwah. Tetaplah istiqomah menjaga prinsip-prinsip Islam yang telah kita dapatkan selama ini. Ingatlah apa yang telah kita berikan ilmunya ke binaan-binaan atau adek-adek kita dulu. Tidak ada kata terlambat.
“Hari orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
(Ash-Shaff:2-3)
Wallahu a’lam bishawab
salut….
Memang yang lebih terlihat adalah akhwat; bukan berarti ikhwannya tidak ada yang berubah.
Sedih juga sih juga melihat fenomena ini. Tapi daripada sibuk ngurusin yang begitu lebih baik ngurusin yang lain. Kerjaan masih banyak euy
Istiqomah dalam lingkungan yang kondusif itu harus. tapi istiqomah di lingkungan yang tidak kondusif itu luar biasa………..
Alhamdulillah
Saya juga merasa sedih melihat fenomena busana muslimah akhwat saat ini.
Saya cuma berfikir, “akankah ikatan itu lepas satu persatu?”
Pertama, menggampangkan busana, kemudian menyusul sikap menggampangkan yang lainnya…Akhirnya ya begitulah, itulah tipu daya syaitan ya ukhti fillah
Merayu kita untuk menggampangkan dari yg paling luar…..
Memang harus ada upaya yg lebih sistemis dalam menghadapi kasus ini…..spt dari struktur terkait mengadakan kajian berkala ttg fiqh penampilan wanita atau apa gitu…
Afwan baru segini komentar saya..
Terus berjuang ya ukhti….
Salah sendiri tidak mempunyai perencanaan yang matang kepada dunia pasca kampus secara kolektif, jadi wajar ketika kemudian pasca kampus individu-individu yang pernah tampil sholeh itu menjadi terjebak pada aura lingkaran setan sistem sosial yang ada.
sedikit tersindir nih..
gpp, insya Alloh jadi pelecut diri untuk kembali istiqomah..jazakillaah ukhtii..^_^
mungkin ini aplikasi berdakwah di grassroot ?
mendekin jilbab apa kerudung si?
kalo jilbab dipendekin..aneh dong
hehe
Sepakat deh sepakat banget. Itu baru namanya lulus. kalo aku sih baru lulus dari kampus aja belom yang laen. kayaknya kisah suksesnya sekaligus jadi tantangan buat yang laen nih: bisa ngga seperti antum.
btw, semoga tetep istiqomah
salam ukhwah dari malaysia.jemput ke ilmuwan-w.blogspot.com
????, gua rada2 bingung? ini jilbab ato kerudung ya?
soalnya temen bilang jilbab itu pakaian, klo isi disini kayaknya ngomongin kerudung?
bisa di buatin dalil mengenai apa itu jilbab g’
thanks alot deh, (soalnya rada-rada bingung dg articlenya)
Penjelasan tambahan: yang dimaksud jilbab di tulisan di atas adalah kerudung. Bukan bermaksud merubah arti jilbab yang sebenarnya (jilbab=pakaian yang menutup aurat wanita), tetapi karena dalam keseharian orang banyak menyebut kerudung itu dengan jilbab. ‘afwan
oh ya, emangnya apa dalil yang menyatakan kerudung itu mesti panjang-panjang sech?
Inilah realitas..!
Trus terang sy juga pernah mengalami hal2 seperti itu, idealisme serasa ditantang dengan kepayahan ini dan itu..!.
Tapi, alhamdulillah…hati tergerak untuk kembali. Sudah fitrah, dalam gerbong dakwah akan ada kelelahan2.
Inilah Pe-eR bersama, dan inilah tantangannya..!..
Jazakillah untuk tulisannya, ana link boleh ya?..
Lam kenal dari deen, Lam ukhuwah..!
Ass.
Doakan aku ya semoga tetap istiqomah sampai akhir hayat, di manapun berada, ISTIQOMAH !!!
Untuk menyongsong kemenangan. Keteguhan akan tekad dan cita-cita harus terpatrikan. Islam akan jaya. Islam akan memimpin dunia. Allahu AKbar
istiqomah memang bereat tetapi bisa kita ringankan apabila semngat
Sebenernya kembali kepada diri masing2, yakin gak dengan jilbab yg nyar’i. Ketika dari kampus mulai pindah ke da’wah sya’bi emang kerasa berat sekali, alhamdulillah secara fisik sih gak ada perubahan ( cuma yg tadinya warna hitam, biru, coklat dan putih aja pakaian n jilbabnya ,sekarang mulai coba sering warna putih, krem, dan warna pupus lainnya), tapi ya dari sisi mental lumayan, menghadapi cemoohan masy, dll.
Entah kenapa ana demikian bangga dengan pakaian ana yg lebar2, meski disebut ribet,karung berjalan, tapi teteplah berusaha kasih karya terbaik, akhirnya setelah 5 thn semua tidak lagi terfokus pada penampilan kita tapi karya dan prestasi kita di tempat kerja.
Dan pengalaman ana sih, orang akan menghargai kita jika kita konsisten dan reasonable , awalnya aja mencibir/kasih aturan ini itu, tapi selanjutnya respek kok ( pengalaman hampir semua teman2 ana..)
Keep Istiqomah!
artikelnya bagus banget…
dan emang hal ini sering terjadi dimana-mana, ketika jadi aktifis kampus maka ia menjadi macan kampus, namun ketika dah bergelut dengan realita tempat kerja pasca lulus, maka nggak ketahuan lagi gimana ia sebelumnya. namun, moga akhwat semua slalu istiqamah di jalan-Nya.Amiiiinnnn
Ya Allah, tuntun aku tuk slalu menjaga hidayah yang engkau berikan. karena menjaganya jauh lebih susah daripada mendapatkannya…….
Yup, semua adalah pilihan, tapi ana fikir semuanya harus tetap bermuara padaNya, mungkin kondisi akan berbeda-beda, medan dakwah kitapun sudah ranah publik, banyak hal, ukhtifillah yang terjadi diluar sana, coba, lihatlah, dan kau akan merasakan, seperti juga ana, yang bekerja dilembaga sosial masyarakat, subhanallah, meski ada yang berubah, insyaallah, still be akhwat, pray me ikhwah, inilah perjuangannya
salam kenal….
dakwah kampus………
dakwah kampung…..
entahlah….dua-duanya berat….
tapi ingat….ALlah pasti akan membantu
betul, istiqomah itu sulit. kata Rasulullah Saw., sa`atan sa`atan, sesaat sesaat, jgn tergesa2, juga jangan putus asa kalo kita lagi lemah iman. tapi ingat,pas lemah iman kita, tetaplah berada di lingkup sunnah, jadi jgn keterlaluan.
parameter istiqomah di tempat kerja kita:
- menjaga sholat (sekuat tenaga berjuang sholat tepat waktu & berjamaah)
- tetap berpakaian sesuai syariat
- menjaga pergaulan (berhati2 dgn non mahram, jangan memudah2kan)
- kalau bisa tetap ngaji agar punya lingkungan yang memberi semangat
- menghidupkan nuansa islami di keluarga, agar saling mendukung ketika terjadi futur
- jangan korupsi/curang! walau apapun yang terjadi
mudah2an kita bisa, semangat akhi/ukhti!
Subhanalloh, benar-benar bagai setetes embun di hati yang kerontang..
Qalbu itu seperti bulu ayam di tanah sahara, dibolak-balikkan oleh angin, muka dan belakang (Al-Hadist)
“Wahai Alloh, lindungi hamba dari siksa neraka..”
(hamba yang bodoh)
Assalamu’alaikum Wr Wb..
salut deh ma tulisannya.., dan memang itulah yang sering terjadi seletelah lulus kuliah. Semoga Allah Sang Maha Pelindung Melindungi kita dari keburukan2 yang bisa terjadi amiin.
Namun menanggapi hal tersebut, ana rasa tidak hanya akhawat yang mengalami ‘kefuturan’ tersebut. Malahan ikhwan bisa jadi jauh lebih banyak..
Ini juga teguran buat ikhwan yang lebih cenderung mudah terwarnai daripada mewarnai..
Dalam masyarakat, seorang akhwat secara dzohir akan langsung terlihat idenrirasnya namun jika ikhwan akan sulit sekali terlihat jika ia adalah seorang yang sholeh (misalnya). Sehingga kita harus tetap membina diri kita dan saling mengingatkan untuk menghadapi tantangan yang sebenarnya n the real dakwah after study in university.., ok?!
Peace.., luv u all muslim coz Allah..
Afwan..
assalamualaikum,
terpanggil utk komen, ana rasa tak salah kalau akhawat memakai seluar, jika masih menuruti ciri2 hijab…
kalau salah, sila nyatakan kenapa tidak enak jika seorang akhawat memakai seluar?
jzkk
Jazakillah ukhtie…Sungguh artikelnya menggugah sanubariku yang mulai tertidur.. Moga ikhwan dan akhwat kita senantiasa istiqomah stlh terjun ke masyarakat..
hmm…adek2 saya juga pada tanya gitu…jilbab PNS katanya..
ASSALAMUALAIKUM WR.WB
ana udh bekerja di salah satu lembaga non departemen pemerintah.alhamdullillah apa yang ana azzamkan diwujudkan Allah swt dalam kenyataan. Bahwa iman tidak sekedar pembuktian tapi kecintaan pada Rabbul alamien. Biah dan teman seperjuangan adalah penopang bukan yang utama. Kepemimpinan dan hidayah itu kita yang perjuangkan. Jilbab dan penampilan berpedoman pada titahNya, akhlaq disempurnakan lewat taushiyah sesama, mengukur intensitas iman dari program ruhiyah yaumiyah fardy, dan sebagainya. banyak hal yang ana dapat dari biah yang kita kondisikan seislami mungkin dari awal memulai bekerja. sekali lagi moga kebaikan diistiqomahkan hingga bertemu dengan Nya.wallahu alam bish shawab