Menikah? Siapa Takut!! He…he… ternyata emang masih banyak koq yang takut menikah. Katanya sih sebagian besar di antaranya adalah para ikhwan. Katanya lho..belom tentu benar. Seringkali muncul pertanyaan dalam pembicaraan para akhwat, “Kenapa sih banyak ikhwan yang udah lulus, udah kerja tapi belum siap nikah, sedikit sekali ya ikhwan yang menyatakan siap nikah”
Eit.. tapi ternyata ada juga lho para akhwat yang takut menikah tapi dengan alasan yang berbeda dengan para ikhwan. Sebenarnya kenapa sih mereka takut menikah?
Berikut ini ada kutipan dari majalah Tarbiyah edisi lama yang membahas tentang ini. Ada beberapa hal yang membuat seseorang itu takut mengambil keputusan untuk menikah.
Yang pertama ini lebih kepada problematika mental, artinya ada satu situasi psikologis yang dialami oleh seoran anak muda itu, dia merasa underestimet terhadap dirinya, rasanya baru anak kemarin, masih suka garuk-garuk kepala
Secara psikologis masih ada jiwa kekanak-kanakan ini sebenarnya tidak menjadi masalah selama jiwa kekanak-kanakan itu kemudian tidak mendominasi sikap mentalnya. Kalau sifat ini mendominasi, maka susah untuk mengambil keputusan menikah. Tapi kalau di kalangan ikhwah, insya Allah hal ini terminimalisirlah, karena sering didoktrinkan dalam kajian-kajian oleh murobbinya, misalnya dengan mengatakan ‘Ayolah cepat kamu menikah, masa takut sih untuk menikah” Kalau ini mah biasanya buat para ikhwan, kalau akhwat ga perlu dikomporin kayak gini, sukanya malu-malu kucing
Jadi, ini adalah persoalan mental. Orang merasa takut karena merasa dirinya masih anak-anak. Sedangkan kalau berbicara tentang pernikahan itu dianggap pembicaraaan orang dewasa. Apa sih pembicaraan nikah itu? Pembicaraan tentang nafkah, iih.. sekarang gua jadi suami. Bisa nggak gua?
Karenanya Rasulullah SAW memberikan solusi, ketika orang mengalami kondisi kejiwaan seperti ini, kata Nabi SAW “Wahai para pemuda, bila kalian telah memasukin usia baligh (telah memiliki kematangan seksual), maka menikahlah…” Ini adalah doktrin membangun keberanian. Doktrin ini harus mendarahdaging, harus kuat. Doktrin ini sudah cukup kuat membangun suasana keberanian. Jangan merasakan galau untuk menikah. Karena galau merupakan sikap underestimet terhadap diri kita. Padahal sebenarnya kita mampu untuk melakukannya. Kita harus membangun keberanian.
Kemudian persoalan yang kedua adalah persoalan ekonomi. Persoalan ini juga banyak yang mengganjal seseorang untuk punya keberanian untuk mengambil keputusan menikah. Ada satu yang mengganjal tentang persoalan ekonomi ini. Karena begitu berpikir tentang menikah, perhitungan pertama adalah matematis. Berapa biaya pernikahan? Foto, undangan, isi kamar, KUA, serahan, roti buaya, dsb. Ini adalah cara berpikir kalkulasi, belum lagi ada yang berpikir, “Lu mau menikahi anak orang dengan begitu saja, mau ngasih makan apa anak orang, lu mau kasih makan batu?” Itu sesuatu yang masih kuat di tengah masyarakat. Apalai saat ini biaya ekonomi sangat tinggi. Memang ada benarnya juga bahwa pernikahan itu ada biayanya juga, itu betul. Tapi maksud saya adalah janganlah hal itu begitu menghantui pikiran kita.
Al Qur’an telah menjawab persoalan ini. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nuur:32)
Kendala yang ketiga adalah kendala budaya. Ini serin kita alami juga. Contoh ada seorang akhwat yan memiki kakak yang belum menikah. Padahal sudah ada ikhwan yan taaruf dengan dia. Akhirnya pangeran sudah datan, sudah taaruf, tapi keluarga menahan karena kakaknya belum menikah. Itu adalah sebuah budaya yang terjadi di masyarakat kita. Di samping itu ada lagi masalah suku. Misalnya ada orang Minang harus dengan orang Minang. Atau Jawa dengan Jawa, dsb.
Bila kita sebagai anak muda mengalami hal ini, kita harus membangun komunikasi intensif denan orang tua. Tapi jangan dilakukan pada saat ketika mau taaruf. Harus membangun komunikasi yang intensif jauh-jauh harilah.
Kendala yang terakhir adalah terlalu banyak pilih. Sebenarnya ini boleh-boleh saja. Contoh, saya ingin cari akhwat yang usianya 19-21, fakultas kedokteran, kulit putih, mata jernih, hidung mancun, tinggi 170 cm minimal. Kalau ada yang minta dicariin yang seperti ini, dikasih cermin aja kali ya, ngaca dulu..
Biasanya ini terjadi di ikhwannya. Kalau di akhwatnya, insya Allah mungkin tidak terlalulah. Cukup dengan sholeh, baik, ekonominya sedan-sedang sajam pendidikannya cukup S1, orannya agak gantenglah, dan enak dilihat (Hehe.. Ini sih sama saja). Hal ini sih boleh-boleh saja kita melakukan seleksi berdasarkan pilihan-pilihan itu. Kala Nabi SAW “Muslimah itu dinikahi karena 4 hal, karena ia anak orang kaya, karena nasabnya, karena kecantikannya, karena komitmen agamanya baik, dan Rasulullah menganjurkan “Nikahilah karena komitmen agamanya baik” . Jadi, boleh-boleh saja memiliki sikap seperti ini, tetapi janganlah menjadi sesuatu yang menjadikan kita susah untuk menikah. Jadi,jangan terlalu banyak pilih.
Trus bagaimana kiat-kiat mengatasi kendala-kendala di atas? Bagi yang mengalami kendala dengan orang tua, bangunlah kamunikasi yang efektif dengan orang tua, mencari waktu-waktu atau suasana yang tepat untuk berbicara dengan mereka. Yakinkan mereka bahwa kita sudah siap untuk menikah. Buatlah orang tua yakin bahwa kita sudah mampu menafkahi atau mengurus keluarga. Tunjukkan bahwa kita adalah dewasa dalam segala hal.
Kalaupun yang berkaitan dengan kasus “Tidak boleh menikah, sebelum kakak menikah”, adalah merupakan kasus klasik yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Ini disebabkan oleh tradisi atau budaya yang hidup di masyarakat. Tetapi ingatlah, tidak ada masalah yang tidak ada penyelesainnya. Dengan kesungguhan berkomunikasi dengan keluarga dan tawakal pada Allah, insya Allah masalah ini akan ada kemudahan.
Menetapkan niat dan bersungguh-sungguh tentunya akan membawa keberhasilan. Jangan takut, maju terus pantang mundur.
Wallahu a’lam
Assalamu’alaikum wr, wb.
Takut menikah? Wah knp takut ? ana nggak takut ukht, but ngerasa lom waktunya ajah. ^_^ COz udah punya time line ndiri kpn nikahnya. About faktor2 yang ada kaya’ mental, ekonomi, budaya, n banyak pilih hmmm … mungkin itu di liat dari kasus kebanyakan ya ukht.
Oh ya sebelumnya ‘afwan dah nyolonong masuk. Salam dari juniornya ukht yang sekarang masih berjuang di ITS. Ukhti dulu dari tim media juga? Wah, ana malah baru tahu. So kapan2 beri kontribusi juga ya ukht di webnya JMMI ^_^. Dulu tim media bag. apa ukht? Sekarang tim media dah dilebur ke dalam HUMAS, jadi ga’ berdiri sendiri lagi. Yup, doakan semoga ikhwah media selalu bisa istiqomah dalam dakwah. Wailalliqa’
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Dasar. mentang-mentang sudah nikah!
Ane juga belom nikah karena alasan belum punya pekerjaan tapi coba perhatikan sekali lagi dalil yang antum sitir:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nuur:32)”
Allah pada surat tersebut tidak berbicara pada para pemuda yang belum menikah, tapi kepada orang lain (yang mampu mengawinkan para pemuda yang belum menikah tersebut)
dan Rasullullah bersabda dalam sebuah hadits: “wahai para pemuda, barang siapa kamu mampu menanggung beban keluarga maka menikahlah” pada hadits ini perintah rasul berlaku bagi para pemuda yang sudah mampu.
singkat kata jangan salahkan para pemuda yang belum mau menikah lantaran alasan finansial tapi salahkan kenapa tidak ada yang mau menikahkan?
Nikah gratis? wow pasti banyak yang mau. geetoh.
singkat kata jangan salahkan para pemuda yang belum mau menikah lantaran alasan finansial tapi salahkan kenapa tidak ada yang mau menikahkan?
>> mungkin akan lebih akhsan jika tidak saling menyalahkan. coba kalo kita bisa berlatih u/ mandiri sejak awal, dan kalo orang tua bisa ngerti dan akan membiayai, ini anugrah yang luar biasa. tapi kl tidak, nikah kan tidak perlu ‘wow’, sederhana saja.
kalo kita bisa mandiri kenapa tidak ?
Alhamdulillah, saya tidak takut…tahu kenapa?karena saya sudah menikah.
ih serem…
kenapa harus takut?
Sahabata Nabi, Ali Bin Abi Thalib aja nikah pada umur 16 tahun, malahan isrti Nabi, Siti Aisyah, nikah pada umur 9 tahun, so…
nikah itu bukan sesuatu yang harus di takuti
tapi klo suadah mampu tapi blum siap, ya… saum aja, supaya bisa terkendali…
tapi klo dah mampu, mo tunggu apa lagi>????
Referensi: Nikah Dini
yuppp
^_^
Wah nikah kok takut …. ! Masa ama sunnah nabi sendiri malah ketakutan. Hehehehe.
Yaaaah … biarkan saja semuanya mengalir. Kalo udah pengin nikah n “mampu” nggih monggo.
NIKAH ? Yuuuuuuuuuuuuuk
(Padahal sini juga belom :p)
kulo mboten wedi nikah nggeh cuman syarate kirang kalih….
kalih sinten…………………
mbok menawi wonten akhwat purun kalih kulo
nggak takut sih tapi belum siap
dan siap pun belum ada yg mau nikah dgn aku
apa ada yg mau bantu aku ta’aruf?
Maju terus pantang mundur… menikahlah jika udah mampu!… hidup nikah
kan sudah dikata, jangan takut menikah…niah ajah…
Menikah ? Di umur 19 tahun ini, alhamdulillah saya berani jika ada akhwat yang berkenan saya nikahi ^_^. Memang Nikah bukan masalah gampang, juga bukan pelarian dari kata “daripada pacaran, mending nikah !”. tapi nikah adalah kesiapan iman dan mental. Juga kematangan emosional mengarungi liku2 rumah tangga……jujur…saya salut dengan para akhi/ukhti yang menikah di usia dini . Hm…jadi kepengen segera nikah juga…..kan nikah sebagian dari kempurnaan Iman !
semoga setiap akhwat mempersiapkan diri untuk menikah
krn trkdg alasan inilah yg mjdi masalahnya
ini juga bwt ana pribadi
semoga dgn menikah…
menggenapkan dien
dan melahirkan jundi/ah yg Rabbani
amiiin
Ass..
tukar link ya
insyaallah…gak takut sich buat nikah…
tapi emang lom ada aja yang ngajak taaruf….
hehehe…
Menikah adalah sunnah Rasulullah, untuk menjalankannya perlu persiapan agar semua kewajiban setelah nikah nantinya bisa terlaksana secara sempurna.
Hidup adalah rangkaian dari ibadah………
http://mastw.blogspot.com/2008/02/jika-hidup-diandaikan-seperti.html
Asslamualaiakum wr wb
Maslahnya bukan takut atau ndak takut; tapi biasanya para ikhwah itu berpikiran jauh kedepan saking jauhnya rasa-rasanya ndak mungkin heeeee. namun ada hal yang lebih penting lagi yaitu pasca menikah…karena masalah yang lebih banyak timbul ya pasca menikah; gmana mao pasca menikah saja belom heeee
wassalamualaikum wr wb
bagaimana pun menikah adalah solusi yang paling mutakhir yang pernah ada, kalo saja syariat nikah itu tidak ada bakalan tenggelam dunia ini dengan yang namanya sephia,bakalan kacau deh!!! untuk itulah ana setuju jika dunia remaja memahami betul akan pentingnya nikah sebagai penjaga iffah diri, dan tentunya bukan sekedar teori … masalah nikah adalah masalah praktek….ayooo buktiin kamu bisa membina dan menjaga kehidupan berumah liff..he!!!
ehm…
Lo nikah sih kenapa mesti takut??
nikah kan berarti menyempurnakan separuh kehidupan kita..
lagian itu sunnah Nabi..
Q sih sebenarnya juga dah pengen nikah..
cuman ya masalahnya ma siapa nya itu..mklum, lagi nyari2..
Lo siap apa tidak, insy Q dah siap…
Oy, apalagi buat temen2 terutama kaum adam alias cowok yang dah punya kerjaan, mending segera menikah aja daripada kepengen yang macem2….hehehe
Lo ama istrinya sendiri kan mo ngapain aja gpp..
Kata orang2 neh ya….
Menikah tuh enaknya cuma 1% yang 99% tuh UEnaK baNgeT…
Kalau saya melihat ini sebagai mekanisme berpikir. Kalau di bilang takut.. tergatung orangnya. Kalau paranoid sama lembaga pernikahan sepertinya para ikhwah tidak seperti itu. Saya percaya tidak ada sunah nabi yang malah membuat mereka jadi ciut.
Untuk urusan pernikahan ini saya melihat kita harus menghargai pendapat dan terutama kesiapan masing-masing. Tidak bisa kita bilang (tanpa bukti konkret) kalu dia takut menikah.
Memang kadang-kadang pertimbangan akan banyak hal yang berlebihan akan membuat orang terlihat seolah-olah takut. Padahal kan tidakselalu seperti itu.
Saya malah berharap… O.K lah jika dia (akhwat atau ikhwan) memerlukan waktu yang cukup lama untuk memutuskan menikah. Tapi diharapkan ada kompensasinya untuk umat. Artinya marilah kita berharap semoga pernikah yang kelak dilakoninya benar-benar mebentuk keluarga yang menjadi tiang negara dan agama.
Soal suku, kecantikan atau ketampanan dan kekayaan biarlah itu menjadi urusan masing-masing. Kita hanya bisa menasehati. Karena ketika sebuah pernikahan itu terjadi itu akan menjadi urusan mereka berdua (sebagai keluarga)untuk mengatasi issue tersebut.
Jangan sampai kita disalahkan karena menyudutkan teman-teman kita yang belum menikah untuk terburu-buru menikah yang pada akhirnya tidak membuat keduanya bahagia.
Bukankah pernikahan itu salah satunya bertujuan mendapatkan ketenangan?
salam kenal dari kami radionasyid online
Jangan berhenti berdakwah coz hanya adzab Allah yang turun pada kaum yang berhenti berdakwah.
Allahu Akbar
takut se enggak…
yg diajak nikah tu…blum tiba pada waktunye..^^
akhwat Its?
pantesan
kok lama ga diisi lagi blognya ukhti? pengen tahu gaya tulisannya yang sekarang
Ane rasa sudah waktunya sech…tapi tarbiyah ane masih dangkal, mana ada akhwat yang mau gitu…?
Assalamu`alaikum ukhti/akhi…!
Bukan takut menikah, hanya saja masih banyak pertimbangan2… Pertimbangan pertama dan yang paling utama ‘Belum ada yang berani’ datang melamar ane ^O^
Masih pada sibuk kali yaa…Melunaskan Kredit Rumahnya!
Assalamualaikum..
saya orang seberang, dari malaysia.
mahu bertanya, sekarang ini bisa jadi, ketika belajar di universitas, anak-anak muda bisa berpacaran sesama mereka, maka apabila diberi tahukan supaya menikah, mereka beritahukan bahawa mereka masih belajar, mana bisa mencari uang sendiri. Belajar pun dtanggung keluarga, inikan pula bisa menanggung anak orang..belajrnya masih lambat mahu habis..mereka sudah maklumkan pada keluarga, tetapi disuruh berhenti belajar jika mahu meneruskan niat mahu berkahwin..
Jadi, bagaimana ya?…mereka mengambil keputusan berpacaran sesama mereka disebabkan halangan keluarga..
bagaimana mahu mengatasi masalah ini ya? sudah sangat kritikal di malaysia sekarang ini..
Menikah??? Kenapa engga. Klo dah ada orang yang mau menikahi maju aja…Toh menikah adalah menyempurnakan setengah dien kita dan harus diingat juga klo menikah adalah pintu pembuka rezeki klo alasan kita karna masalah finansial. Tapi harus dengan niat ibadah yang ikhlas…Insya Allah niat baik kita diridhoi dan diberikan jalan keluar terbaiknya…..
Pdhl aku juga belum nikah tapi sedang dalam proses menuju kesana Insya Allah….hehehe….
Aslmkm. jangan takut nikah, karena nikah menyempurnakan agama, dan klo kita tau manfaatnya menikah, subhanallah berkah yg didapet. walopun belum menikah tapi ane dapet cerita dari para murobbi yang udah nikah. apalagi bisa menghindari dari ghoswul bashor.
Nikah……???? hayu……tapi belum ada sk dari Murrobbi ane
aslm. menikah adalah sebuah ibadah. bagi akhwat dibandung yg siap menikah. hub hidayat. di 24 thn.jurusan kimia unpad 08179206536. syukran
nice artikel, salam
Nikah…! So pasti. Tapi, bener nih masih ada akhwat yang tidaK NGINTIPIN ekonomi ikhwah…^_^
assalamualaikum wr.wb
moga artikel tsb tidak sekedar mengompori all akhwat wa ikhwan fillah untuk segera menyempurnakan dien tapi juga memantapkan azzam sehingga mampu mengatasi aral yang melintang.daku udah siap menikah kok hatta minggu depan sekalipun (deugh..bener gak seh?)bila ada ikhwan SERIUS DAN SIAP menikah dengan berta’aruf via email, tafadhol kirimkan biodata antum ke email ana di naurah10@yahoo.com. Ana Pernah berikhtiyar via murabbiyah tapi hanya sebatas taaruf yang tak berujung khitbah.smoga menjadi pengalaman berharga.Moga ikhtiyar ini diridhoi Allah swt.jazakumullah khair
assalamualaikuim wr. wb.
memang kalo membicarakan masalah yang ini pasti bakal seru, dalam artian akan banyak pro dan kontra, kerna memang banyak yang perlu dipersiapkan klo mau menjalankan ibadah yang satu ini. seperti halnya rukun islam yang 5, pergi berhaji kebaitullah bagi yang mampu.
kerna dalam pernikahan pasti banyak pertimbangan yang perlu disiapkan, seperti contoh saya sendiri yang kini usianya udah memang lebih dari waktunya, klo masalah ditawari akhwat itu bukan sekali dua saja, namun tika saya beritau alasan kenapa harus menunda dulu maka semua bisa memahami. memang sih Allah akan mengkayakan bagi mereka yang miskin, namun seringkali logika manusia sering mendominasi, bahkan pikiran akan menzdolimi istripun akan muncul.
waahh kepiye iki…
afwan deh.. walau umur sudah agak tua, namun sy belum siap dan mandat dari ortu juga “jangan dulu”, banyak yang mesti dipersiapkan dan saya gak ingin menikah adalah sebagai “pelarian” dari semua permasalahan dan pasti nantinya akan menjadi beban dalam rumahtangga.
saya pasti menikah kok..Insya Allah.. tenang aja…
akhi ukhti bukannya gak siap nikah, ana 100% siap tapi syarat dari ortu ituloh yang membuat ana bingung. yaitu syaratnya adalah udah kerja mapan, rapi n kalo bisa NU. bisa cari solusi ?
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
………………………………………………………………….
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh