<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Embun Tarbiyah</title>
	<atom:link href="http://embuntarbiyah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com</link>
	<description>Tarbiyah  bukan segala-galanya, tapi segalanya bisa bermula dari Tarbiyah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 May 2011 01:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='embuntarbiyah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Embun Tarbiyah</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://embuntarbiyah.wordpress.com/osd.xml" title="Embun Tarbiyah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://embuntarbiyah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Siap Nikah atau (sekedar) Ingin Nikah?</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2008/10/09/siap-nikah-atau-sekedar-ingin-nikah/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2008/10/09/siap-nikah-atau-sekedar-ingin-nikah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 05:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Di tulisan sebelumnya &#8220;Kenapa Takut Menikah&#8221; ternyata banyak sekali yang menanggapi. Topik pernikahan dimana-mana memang topik paling rame diperbincangkan, iya kan? Tulisan tersebut bukan untuk menantang atau ngomporin supaya &#8216;nekat&#8217; menyegerakan menikah tanpa persiapan tapi agar tidak menunda-nunda menikah dengan tetap mempersiapkannya dengan baik. Nach, tulisan kali ini untuk membahas masalah ini, supaya tidak asal bilang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=112&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tulisan sebelumnya &#8220;Kenapa Takut Menikah&#8221; ternyata banyak sekali yang menanggapi. Topik pernikahan dimana-mana memang topik paling rame diperbincangkan, iya kan? Tulisan tersebut bukan untuk menantang atau ngomporin supaya &#8216;nekat&#8217; menyegerakan menikah tanpa persiapan tapi agar tidak menunda-nunda menikah dengan tetap mempersiapkannya dengan baik. Nach, tulisan kali ini untuk membahas masalah ini, supaya tidak asal bilang siap nikah tapi ternyata hanya sekedar ingin saja tanpa persiapan. Bismillah&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=112&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2008/10/09/siap-nikah-atau-sekedar-ingin-nikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Embun Tarbiyah Kembali Hadir, Kini Lebih Interaktif</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2008/10/09/embun-tarbiyah-kembali-hadir-kini-lebih-interaktif/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2008/10/09/embun-tarbiyah-kembali-hadir-kini-lebih-interaktif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 03:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Mohon maaf kepada para pengunjung karena blog ini sudah lama tidak diisi kembali. Insya Allah Embun Tarbiyah akan diupdate kembali dan mohon dukungan dan partisipasi dari teman-teman. Memang tidak pantas rasanya menjadikan alasan berbagai macam kesibukan untuk tidak menulis, meskipun sarana amar ma&#8217;ruf nahi mungkar memang masih banyak yang lain. Tetapi dengan menulis subhanallah.. banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=107&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon maaf kepada para pengunjung karena blog ini sudah lama tidak diisi kembali. Insya Allah  Embun Tarbiyah akan diupdate kembali dan mohon dukungan dan partisipasi dari teman-teman. Memang tidak pantas rasanya menjadikan alasan berbagai macam kesibukan untuk tidak menulis, meskipun sarana amar ma&#8217;ruf nahi mungkar memang masih banyak yang lain. Tetapi dengan menulis subhanallah.. banyak sekali manfaatnya.<span id="more-107"></span></p>
<p>Alhamdulillah embun tarbiyah telah banyak pengunjungnya, banyak pula respon positif yang diterima, hal itu memicu semangat untuk kembali meneruskan menulis di blog ini. Teringat dulu semangat menulis muncul ketika membaca buku-buku para tokoh seperti Rahmat Abdullah, Anis Matta, Hasan Al Banna, Sayyid Qutub, Fatiyakan, dan tokoh-tokoh yang lain, subhanallah begitu banyak ilmu yang telah mereka wariskan. Ilmu yang diwariskan lebih panjang dari usia mereka, ilmu mereka menjadi amal jariyah yang pahalanya tidak putus meski meregang nyawa. Satu tulisan berapa ribu orang yang membacanya, belum lagi kali orang-orang tersebut kemudian mengajarkannya kepada orang lain, subhanallah.</p>
<p>Kenapa menulis di blog? Dengan menulis di blog akan lebih mudah dibaca dari mana saja di seluruh penjuru dunia. Kalau ada yang mau menyalin untuk bahan referensi taklim atau liqo atau untuk mading di masjid atau kampusnya akan mudah juga dilakukan.</p>
<p>Tulisan yang ada di blog ini ada yang tulisan pribadi, ada yang ngambil dari majalah atau buku atau sumber yang lain. Bagi temen-temen yang mau menyumbangkan tulisan silakan kirim aja ke ukhti_rohmah@yahoo.com dengan subject [Tulisan untuk Embun Tarbiyah].</p>
<p>Bagi temen-temen yang ingin request tulisan boleh juga, insya Allah kami akan berusaha mencarikannya.</p>
<p>Ada saran? silakan ditulis aja ya..</p>
<p>Terimakasih</p>
<p>Redaksi Embun Tarbiyah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=107&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2008/10/09/embun-tarbiyah-kembali-hadir-kini-lebih-interaktif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Takut Menikah</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/06/kenapa-takut-menikah/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/06/kenapa-takut-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 04:01:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/06/kenapa-takut-menikah/</guid>
		<description><![CDATA[Menikah? Siapa Takut!! He…he… ternyata emang masih banyak koq yang takut menikah. Katanya sih sebagian besar di antaranya adalah para ikhwan. Katanya lho..belom tentu benar. Seringkali muncul pertanyaan dalam pembicaraan para akhwat, “Kenapa sih banyak ikhwan yang udah lulus, udah kerja tapi belum siap nikah, sedikit sekali ya ikhwan yang menyatakan siap nikah” Eit.. tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=104&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Menikah? Siapa Takut!! He…he… ternyata emang masih banyak koq yang takut menikah. Katanya sih sebagian besar di antaranya adalah para ikhwan. Katanya lho..belom tentu benar. Seringkali muncul pertanyaan dalam pembicaraan para akhwat, “Kenapa sih banyak ikhwan yang udah lulus, udah kerja tapi belum siap nikah, sedikit sekali ya ikhwan yang menyatakan siap nikah” <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Eit.. tapi ternyata ada juga lho para akhwat yang takut menikah tapi dengan alasan yang berbeda dengan para ikhwan. Sebenarnya kenapa sih mereka takut menikah?</span></p>
<p><span id="more-104"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Berikut ini ada kutipan dari majalah Tarbiyah edisi lama yang membahas tentang ini. Ada beberapa hal yang membuat seseorang itu takut mengambil keputusan untuk menikah.</p>
<p>Yang pertama ini lebih kepada problematika mental, artinya ada satu situasi psikologis yang dialami oleh seoran anak muda itu, dia merasa underestimet terhadap dirinya, rasanya baru anak kemarin, masih suka garuk-garuk kepala <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Secara psikologis masih ada jiwa kekanak-kanakan ini sebenarnya tidak menjadi masalah selama jiwa kekanak-kanakan itu kemudian tidak mendominasi sikap mentalnya. Kalau sifat ini mendominasi, maka susah untuk mengambil keputusan menikah. Tapi kalau di kalangan ikhwah, insya Allah hal ini terminimalisirlah, karena sering didoktrinkan dalam kajian-kajian oleh murobbinya, misalnya dengan mengatakan ‘Ayolah cepat kamu menikah, masa takut sih untuk menikah” Kalau ini mah biasanya buat para ikhwan, kalau akhwat ga perlu dikomporin kayak gini, sukanya malu-malu kucing <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, ini adalah persoalan mental. Orang merasa takut karena merasa dirinya masih anak-anak. Sedangkan kalau berbicara tentang pernikahan itu dianggap pembicaraaan orang dewasa. Apa sih pembicaraan nikah itu? Pembicaraan tentang nafkah, iih.. sekarang gua jadi suami. Bisa nggak gua?</p>
<p>Karenanya Rasulullah SAW memberikan solusi, ketika orang mengalami kondisi kejiwaan seperti ini, kata Nabi SAW “Wahai para pemuda, bila kalian telah memasukin usia baligh (telah memiliki kematangan seksual), maka menikahlah…” Ini adalah doktrin membangun keberanian. Doktrin ini harus mendarahdaging, harus kuat. Doktrin ini sudah cukup kuat membangun suasana keberanian. Jangan merasakan galau untuk menikah. Karena galau merupakan sikap underestimet terhadap diri kita. Padahal sebenarnya kita mampu untuk melakukannya. Kita harus membangun keberanian.</p>
<p>Kemudian persoalan yang kedua adalah persoalan ekonomi. Persoalan ini juga banyak yang mengganjal seseorang untuk punya keberanian untuk mengambil keputusan menikah. Ada satu yang mengganjal tentang persoalan ekonomi ini. Karena begitu berpikir tentang menikah, perhitungan pertama adalah matematis. Berapa biaya pernikahan? Foto, undangan, isi kamar, KUA, serahan, roti buaya, dsb. Ini adalah cara berpikir kalkulasi, belum lagi ada yang berpikir, “Lu mau menikahi anak orang dengan begitu saja, mau ngasih makan apa anak orang, lu mau kasih makan batu?” Itu sesuatu yang masih kuat di tengah masyarakat. Apalai saat ini biaya ekonomi sangat tinggi. Memang ada benarnya juga bahwa pernikahan itu ada biayanya juga, itu betul. Tapi maksud saya adalah janganlah hal itu begitu menghantui pikiran kita.</p>
<p>Al Qur’an telah menjawab persoalan ini. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nuur:32)</p>
<p>Kendala yang ketiga adalah kendala budaya. Ini serin kita alami juga. Contoh ada seorang akhwat yan memiki kakak yang belum menikah. Padahal sudah ada ikhwan yan taaruf dengan dia. Akhirnya pangeran sudah datan, sudah taaruf, tapi keluarga menahan karena kakaknya belum menikah. Itu adalah sebuah budaya yang terjadi di masyarakat kita. Di samping itu ada lagi masalah suku. Misalnya ada orang Minang harus dengan orang Minang. Atau Jawa dengan Jawa, dsb.</p>
<p>Bila kita sebagai anak muda mengalami hal ini, kita harus membangun komunikasi intensif denan orang tua. Tapi jangan dilakukan pada saat ketika mau taaruf. Harus membangun komunikasi yang intensif jauh-jauh harilah.</p>
<p>Kendala yang terakhir adalah terlalu banyak pilih. Sebenarnya ini boleh-boleh saja. Contoh, saya ingin cari akhwat yang usianya 19-21, fakultas kedokteran, kulit putih, mata jernih, hidung mancun, tinggi 170 cm minimal. Kalau ada yang minta dicariin yang seperti ini, dikasih cermin aja kali ya, ngaca dulu.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Biasanya ini terjadi di ikhwannya. Kalau di akhwatnya, insya Allah mungkin tidak terlalulah. Cukup dengan sholeh, baik, ekonominya sedan-sedang sajam pendidikannya cukup S1, orannya agak gantenglah, dan enak dilihat (Hehe.. Ini sih sama saja). Hal ini sih boleh-boleh saja kita melakukan seleksi berdasarkan pilihan-pilihan itu. Kala Nabi SAW “Muslimah itu dinikahi karena 4 hal, karena ia anak orang kaya, karena nasabnya, karena kecantikannya, karena komitmen agamanya baik, dan Rasulullah menganjurkan “Nikahilah karena komitmen agamanya baik” . Jadi, boleh-boleh saja memiliki sikap seperti ini, tetapi janganlah menjadi sesuatu yang menjadikan kita susah untuk menikah. Jadi,jangan terlalu banyak pilih.</p>
<p>Trus bagaimana kiat-kiat mengatasi kendala-kendala di atas? Bagi yang mengalami kendala dengan orang tua, bangunlah kamunikasi yang efektif dengan orang tua, mencari waktu-waktu atau suasana yang tepat untuk berbicara dengan mereka. Yakinkan mereka bahwa kita sudah siap untuk menikah. Buatlah orang tua yakin bahwa kita sudah mampu menafkahi atau mengurus keluarga. Tunjukkan bahwa kita adalah dewasa dalam segala hal.</p>
<p>Kalaupun yang berkaitan dengan kasus “Tidak boleh menikah, sebelum kakak menikah”, adalah merupakan kasus klasik yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Ini disebabkan oleh tradisi atau budaya yang hidup di masyarakat. Tetapi ingatlah, tidak ada masalah yang tidak ada penyelesainnya. Dengan kesungguhan berkomunikasi dengan keluarga dan tawakal pada Allah, insya Allah masalah ini akan ada kemudahan.</p>
<p>Menetapkan niat dan bersungguh-sungguh tentunya akan membawa keberhasilan. Jangan takut, maju terus pantang mundur.<br />
Wallahu a’lam</p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=104&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/06/kenapa-takut-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nahnu Kaum Amaliyun</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/05/nahnu-kaum-amaliyun/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/05/nahnu-kaum-amaliyun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 09:49:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/05/nahnu-kaum-amaliyun/</guid>
		<description><![CDATA[Ikhwah Fillah… Amal merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari iman. Imam Hasan Al Bashri menegaskan bahwa iman bukanlah angan-angan dan harapan hampa, akan tetapi ia adalah keyakinan yang mantap dalam hati dan dibuktikan dengan amal yang nyata. Bagi para aktivis da’wah amal islami adalah bukti intima (komitmen) pada da’wah, jamaah dan harokah. Tidak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=103&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ikhwah Fillah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Amal merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari iman. Imam Hasan Al Bashri menegaskan bahwa iman bukanlah angan-angan dan harapan hampa, akan tetapi ia adalah keyakinan yang mantap dalam hati dan dibuktikan dengan amal yang nyata. Bagi para aktivis da’wah amal islami adalah bukti <em>intima </em>(komitmen) pada da’wah, jamaah dan harokah. Tidak ada tempat di dalam jama’ah da’wah ini bagi orang-orang yang hanya ingin diakui sebagai orang-orang yang hanya ingin diakui sebagai anggota secara legal formal, apalagi bagi mereka yang sepi beraktivitas (baca:menganggur) bahkan hanya membebani jama’ah.</span><span id="more-103"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ikhwah Fillah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Kita seharusnya datang ke jama’ah ini untuk memberi dan bukan untuk meminta, sudah semestinya kita mengurangi beban dan buan menjadi beban dan bahkan menjadi kewajiban kita memberikan seluruh potensi yang kita miliki untuk da’wah dan bukan mencari keuntungan dari da’wah. Ingatlah, sesungguhnya orientassi kita dalam jama’ah ini adalah orientasi amal dan hanya amallah yang dapat mengankat derajat kita serta membuat Allah mengakui kita sebagai aktivis da’wah. Allah berfirman:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">“Dan berbuatlah kamu, maka Allah dan Rasul dan orang-orang yang beriman akan melihat amal kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.” (At-Taubah:105)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ikhwah Fillah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ketahuilah, kewajiban dan tanggung jawab yang harus kita emban ternyata lebih banyak dari waktu yang tersedia dan lebih besar dari potensi yang kita miliki. Oleh karenanya jangan sampai ada di antara kita yang hanya duduk, terpaku, dan berdiam diri di dalam jama’ah ini karena jama’ah ini bukanlah jama’ah tanpa kerja (baca:pengangguran). Bila hal itu terjadi, maka ia akan membawa dampak negative kapada jama’ah, sebagai contoh munculnya suasana dan iklim yang tidak sehat, yaitu iklim ghibah dan namimah di antara kader yang dapat menghambat perjalanan harokah dan meruntuhkan bangunan jama’ah. Tidakkah kita menyadari bawah Rasul melarang kita dari dua hal, yaitu: (1)membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya (qilla wa qoola=katanya… dan katanya…) (2)menyia-nyaiakan harta (idlo’atul maal). Termasuk prinsip ke-9 dari ushul Isyrin yang menegaskan bahwa <strong>setiap masalah yang tidak berorientasi pada amal, maka membicarakannya adalah sesuatu yang memberatkan diri dan dilarang syari’at.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ikhwah Fillah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Sekarang saatnya kita memperbanyak aktivitas dan meningkatkan produktivitas dan tidak ada waktu bagi kita untuk banyak berbicara terlebih berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna mengingat masih banyak lahan da’wah yang masih belum tergarap. Betapa banyak lahan da’wah yang menjadi tanggung jawab kita di kalangan buruh, pedagang, petani, nelayan, professional, ibu rumah tangga, remaja, anak jalanan, dll. Sungguh naïf jika ada di antara kita yang tidak memiliki aktivitas, kesibukan atau “pekerjaan” di dalam jama’ah ini. Sungguh, Asy-syahid Imam Hasan Al-banna pada masa hidupnya pernah berkata bahwa <strong><em>kita harus bekerja lebih banyak untuk umat daripada untuk diri kita sendiri.</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span>            </span>Ikhwah Fillah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span>            </span>Ladang da’wah begitu banyak terbuka luas di depan kita. Siapa yang akan memulai menggarapnya? Tentu saja dibutuhkan kader-kader yang berinisiatif, kreatif dan produktif yang motivasinya karena allah dan berorientasi kepada ridlo Allah. Lupakah kita bahwa Rasul pernah bersabda bahwa:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span> </span>“Barang siapa yang berinisiatif mengerjakan amal kebaikan lalu diikuti oleh orang lain maka baginya pahala atas perbuatannya itu dan pahala dari orang-orang yang mengerjakan setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun… “(HR.Bukhari)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span>            </span>Ikhwah Fillah…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Indikasi bahwa kegiatan dan proses tarbiyah yang kita selenggarakan telah berjalan cukup baik (efektif) adalah jika para kader/peserta tarbiyah dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai <em>syakhsiyyah Islamiyah</em> dan <em>da’iyah</em> di tengah masyarakatnya. Kehadiran, partisipasi, peran dan kontribusinya dapat dirasakan oleh orang banyak. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasul SAW bahwa “<strong><em>orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak kebaikannya di masyarakat (HR.Tirmidzi)</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Rasulullah menggambarkan bahwa profil seorang mukmin adalah <strong>seperti lebah, yaitu hanya mengambil yang baik dan memberi yang baik (HR.Ahmad</strong></span></em><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">)</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">. Bila ia hinggap di suatu tempat maka ia akan mengambil yang terbaik dari tempat itu yaitu madu tanpa merusak atau mematakan ranting tempat ia berpijak. Bahkan lebah membantu bunga-bunga tersebut melakukan proses penyerbukan. Dan ketika ia meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat yang lain, maka ia meninggalkan sesuatu yang terbaik pula yaitu madu serta meninggalkan kenangan manis kepada lingkungan yang pernah ia hinggapi. Dan begitu seterusnya, ikhwah, jadilah seperti lebah yang selalu mencari unsur-unsur kebaikan dan memberikan buah kebaikan. Benih-benih kebaikan itu tak akan terjadi manakala kita tidak giat melakukan amal da’wi di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span>            </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ikhwah Fillah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Sesungguhnya amal adalah buah dari ilmu da keikhlasan. Ilmu yang kita peroleh di dalam halaqah, tatsqif dan ta’lim harus berdampak posiif pada kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat kita beraktivitas. Kita tidak boleh merasa puas dengan kegiatan tarbawi, tatsqifi, dan tandzimi yang tidak ditransformasikan kepada masyarakat. Kita tidak bikeg menganggap cukup dengan aktivitas tarbawi yang bersifat internal tanpa mengembangkannyya dalam bentuk amal da’wi dan kegiatan sosial karea konsep tarbiyah yang kita anut adalah memadukan <em>tarbiyah nukhbawiyah</em> (pembinaan kader ke dalam) dan <em>tarbiyah jamahiriyah </em>(rekrut massa yang bersifat terbuka dan massif)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span>            </span>Ikhwah Fillah&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span>            </span>Jadilah pekerja da’wah yan berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh struktur Partai Keadilan Sejahera dalam rangka mensukseskan pemenangan pemilu baik di tingkat DPRa, DPC, DPD, DPW dan DPP. Janganlah kita menjadi penonton dalam persaingan dan pertarunan da’wah yang hanya bisa tertawa, bergembira, bersorak-sorai, bertepuk tangan dan bersiul menyaksikan pemain yang bertarung untuk merebut kemenangan di medan pertempuran atau kadang kala berkomentar negatif jika pemain melakukan kesalahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span>            </span>Ikhwah Fillah&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span>            </span>Kita tidak mengenal istilah <strong>pengamat da’wah </strong>dalan kamus da’wah kita karena yang ada hanyalah <strong>aktivis da’wah </strong>dan <strong>praktisi harakah</strong>. Oleh karena itu tidak boleh di antara kita yang menjadi pengamat da’wah api hendaklah menjadi aktivis dan praktisi harakah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ikhwah Fillah&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">I’malu ‘ala barakatillah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"> sumber: majalah Tarbiyah Desember 2003</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> </span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=103&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/05/nahnu-kaum-amaliyun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kefahaman yang Melapangkan Dada</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/05/kefahaman-yang-melapangkan-dada/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/05/kefahaman-yang-melapangkan-dada/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 04:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeladanTarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/05/kefahaman-yang-melapangkan-dada/</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip lagi dari buku Teladan Tarbiyah, masuk dalam bingkai Al-Fahmu. Sejak usia belia Hasan Al Banna dikenal sebagai sosok orang yang pandai memecahkan masalah. Keberhimpunan pengikutnya dari berbagai latar belakang intelektual, ekonomi dan sosial membuktikan dengan jelas hal tersebut. Demikian pun ketika beberapa orang mencoba usil mengajukan pertanyaan dengan maksud ingin mengujinya, mencoba kemampuannya, atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=102&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dikutip lagi dari buku Teladan Tarbiyah, masuk dalam bingkai <em>Al-Fahmu.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Sejak usia belia Hasan Al Banna dikenal sebagai sosok orang yang pandai memecahkan masalah. Keberhimpunan pengikutnya dari berbagai latar belakang intelektual, ekonomi dan sosial membuktikan dengan jelas hal tersebut. Demikian pun ketika beberapa orang mencoba usil mengajukan pertanyaan dengan maksud ingin mengujinya, mencoba kemampuannya, atau bahkan ada yang ingin mempermalukannya.</span><span id="more-102"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Pada suatu hari, seorang alumni Al-Azhar bertanya dengan maksud di atas. <em>Ahzariy </em>(alumni Al-Azhar) tersebut, pada suatu pertemuan terbuka menanyakan tentang nama Ibrahim as yang sebenarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Al-Banna menjawab bahwa nama Ibrahim adalah tarikh. Sedangkan pamannya bernama Azar. Dalam Al-Qur’an nama Azar disebut sebagai nama ayah nabi as. Ibrahim. Hal tersebut terjadi karena dalam terminology gaya bahasa Arab, nama sering bertukar. Dengan mengutip berbagai penafsiran dalam berbagai kitab, Hasan Al-Banna berpendapat bahwa Azar bukan nama ayah ataupun paman Ibrahim. Al-Banna mengucapkan tarikh dengan suara “I” setelah “r”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Penanya yang memang ingin mempermalukan Al-Banna tersebut mengatakan bahwa bunyi “r” harus disusul buyi “u”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Menghadapi penanya istimewa yang memang tergolong pandai ini, Hasan Al-Banna menempuh cara dengan cerdik. Maka, dipanggilnya orang tersebut untuk datang ke rumah Al Banna dan Ahzariy tersebut. Al Banna lantas memberi hadiah uang dan dua buah buku yang membahas tentang hukum dan kusufian. Dengan cara tersebut hati penanya yang merepotkan itu pun mencair, bahkan kemudian tumbuh ikatan cinta. Akhirnya, ketika lain waku bertemu lagi pada pengajian pekanan yang diisi Hasan Al-Banna, <em>Ahzariy</em> tersebut tidak bertanya hal yang aneh-aneh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Pada kesempatan lain, datang lagi orang yang ingin menyulut fitnah dengan pertanyaan yang sudah sering dibahas dan diperdebatkan-masalah yang hampir setiap orang sudah mahfum bagaimana jawabannya, yakni tentang wasilah. Menghadapi pertanyaan tersebut, Hasan Al-Banna hanya tersenyum dan menjawab, “Saudara, barangkalil yang Anda tanyakan tidak saja terbatas pada masalah wasilah, tapi sekaligus tentang kata <em>sayyidina Muhammad</em> dalam tasyahud, pahala Al Fatihah dan Yasin untuk orang mati, dan lain-lain!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Demi mendengar pernyataan Al-Banna yang demikian, orang tersebut langsung menjawab, “Memang benar apa yangn syaikh katakan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dengan taawadlu Al-Banna memberikan jawabannya, “Saudara, saya ini bukanlah orang alim. Saya hanya sekedar seorang guru yang hafal beberapa ayat Al-Qur’an, beberapa hadits Nabi dan hukum-hukum Islam yang saya baca dari beberapa kitab. Semua yang saya ketahui itu, saya sampaikan kepada manusia untuk mereka kaji. Jadi, kalau Anda menemui saya untuk membiacarakan masalah ini, pada hakikatnya Anda telah mempersulit saya. Sebab, barangsiapa yang mengatakan, “Saya tidak tahu”, pada hakikatnyanya dia telah memberikan fatwa..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ketika Al-Banna merasakan bahwa jawaban yang ia berikan tersebut dapat dimengerti, beliau lantas menyambung perkataan, “Sesungguhnya, kita telah terlibat dalam fitnah seperti ini selama bertahun-tahun, maka harus cukupkan, jangan diperpanjang-diperkembang. Sebab masalah ini sudah dipersengketakan para ulama Islan selama beratus-ratus tahun tanpa ada ujung, tanpa ada titik temu. Dampaknya adalah semakin tajamnya perselisihan dan permusuhan. Sungguh, Allah menginginkan agar kita bersatu dan kasih-mengasihi, Allah Ta’ala tidak menyukai perbedaan dan perpecahan. Oleh sebab itu, mari kita berjanji kepada Allah untuk meninggalkan masalah seperti ini mulai sekarang, untuk kemudian bersungguh-sungguh mempelajari <em>ushuludien</em> dan kaidah-kaidahnya, serta melaksanakan akhlak dan perilaku utama. Selanjutnya, kita ajarkan kepada seluruh umat manusia sampai semua menjadi bersih hatinya. Seandainya masalah tersebut sudah tercapai, barulah kita kaji masalah ini di bawah naungan rasa cinta, keteguhan, dan keikhlasan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Mendengar penuturan Al-Banna ini, anak-anak muda itupun berjanji untuk tidak lagi mengungkit-ungkit masalah khilafiah tersebut. <em>Allahu Akbar.</em></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=102&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/11/05/kefahaman-yang-melapangkan-dada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Hudzaifah di medan Ahzab</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/09/19/kisah-hudzaifah-di-medan-ahzab/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/09/19/kisah-hudzaifah-di-medan-ahzab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 06:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeladanTarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/09/19/kisah-hudzaifah-di-medan-ahzab/</guid>
		<description><![CDATA[Cermin ketaatan sejati Sudah satu bulan lebih pengepungan itu berlangsung, Pasukan Quraisy dan sekutunya yang mencapai puluhan ribu tersebut tetap bertahan di tempatnya, di seberang parit. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Inilah perang Khandak (parit), dimana Rasulullah dikepung oleh tentara gabungan musyrikin Makkah dalam jumlah yang belum pernah mereka hadapi. Berkat usulan Salman Al-Farisi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=101&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Cermin ketaatan sejati</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Sudah satu bulan lebih pengepungan itu berlangsung, Pasukan Quraisy dan sekutunya yang mencapai puluhan ribu tersebut tetap bertahan di tempatnya, di seberang parit. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Inilah perang <em>Khandak (parit)</em>, </span><span id="more-101"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">dimana Rasulullah dikepung oleh tentara gabungan musyrikin Makkah dalam jumlah yang belum pernah mereka hadapi. Berkat usulan Salman Al-Farisi, dibuatlah parit sebagai benteng pertahanan ala Parsi dalam mempertahankan diri ketika keberadaan musuh lebih besar jumlahnya. Strategi itu cukup berhasil. Quraisy tak mampu berbuat apapun kecuali hanya menunggu dan menunggu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Rasulullah saw dan para shahabat tetap bersabar dalam kepungan mereka. Dalam keadaan lapar, terjepir dan kebuntuan itu, mereka masih punya harapan kepada Allah swt. Sementara itu, Yahudi Banu Quraidhah yang pernah menyatakan perjanjian damainya dengan kaum muslimin telah nyata-nyata mengingkari janji, mereka malah bergabung bersama pasukan kafir Quraisy. Maka semakin lengkaplah kekuatan musuh dan semakin bersarlah bahaya yang mengepung kaum muslimin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Perang ini disebut juga perang <em>Ahzab</em>(sekutu, istilah modern: Pasukan Multinasional-<em>edit)</em> mengingat besarnya ancaman musuh yang dating menyerbu Madinah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dalam keadaan tak menentu itu, datanglah pertolongan Allah swt. Terjadilah peristiwa alam yang langka. Suatu malam, hujan angin dating disertai badai besar hingga membuat panic setiap orang. Cuaca menjadi sangat dingin, ditingkahi kilatan halilintar yang membahana, masih diiringi deru angin putting beliung yang luar biasa kencangnya. Periuk-periuk pasukan kafir Quraisy pun berjatuhan, kemah beterbangan terbawa angin. Dinginnya angin dan hujan membuat setiap orang menggigil luar biasa. Terkaman alam tersebut telah membuat orang-orang gurun tersebut tersiksa, terlebih bagi orang-orang kafir, hati dan pikiran mereka semakin tidak karuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dalam kondisi demikian sulit dan berat tersebut Rasulullah saw. justru ingin mengetahui keadaan pasukan musuh. Kala itu kaum muslimin duduk dengan mendekap kaki-kaki mereka mencari kehangatan. Kedinginan terasa menusuk tulang, apalagi perut yang kosong kelaparan semakin menambah keadaan bagaikan membekukan. Hujan masih saja turun dalam bentuk butiran-butiran salju. Setiap orang merasa terancam oleh suasana mencekam yang sangat luar biasa tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Para shahabat duduk membatu dalam kegelapan bagaikan onggokan bebatuan mati. Di tengah kebisuan itu Rasulullah saw. bersabda, “Adakah yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepadaku, mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku di hari Kiamat!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Jaminan keselamatan dari Rasulullah saw. dan berita gembira itu tidak segera mendapat sambutan dari para shahabat. Padahal biasanya para shahabat senantiasa menyambut dan berebut untuk menunaikan amanah Rasulullah saw. Sungguh mengherankan, semua shahabat diam menahan dingin dan didekap penderitaan yang berat, ditambah rasa takut yang masih menyelimutinya. Maka, Rasulullah saw. pun mengulang-ualang pertanyaan itu sampai tiga kali. Begitu pun tetap tidak ada juuga shahabat yang menyambut tawaran itu. Hingga kemudian Rasulullah saw. berseru, “Qum… ya Hudzaifah!! (Bangkitlah… wahai Hudzaifah!!) Carilah berita dan laporkan kepadaku!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dengan segera, ketika Rasululah saw menyebut namanya, Hudzaifah bangkit. Seringan kapas ia berdiri dan segera menuju pimpinannya. Padahal, ketika duduk tadi badannya lengket dengan bumi, serasa ada beban batu besar di punggungnya. Titah Rasul saw. kemudian , “Berangkatlah mencari berita musuh dan janganlah engkau melakukan tindakan apapun!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Hudzaifah mengisahkan dirinya tatkala melaksanakan tugas besar itu, “Aku berangkat seperti orang yang sedang dicengkeram kematian, seolah-olah maut telah ada di depan pelupuk mataku. Aku pun tiba di wilayah konsentrasi musuh. Disana aku bisa melihat dengan jelas, Abu Sufyan yang menjadi panglima mereka sedang menghangatkan punggungnya di perapian. Secara reflek aku segera memasang anak panah pada busur dan aku arahkan ke tubuhnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari posisiku. Namun, sebelum anak panah lepas dari busurnya, aku seperti mendengar pesan Rasulullah saw. “Janganlah engkau melakukan tindakan apapun!” Maka aku segera mengurungkan niat, aku ingat betul akan tugasku, Tugasku hanya mencari berita tentang keadaa musuh belaka. Padahal, jika aku lepaskan panahku tersebut aku sangat yakin pasti akan mengenai Abu Sufyan. Aku urungkan niat itu, aku berjalan berkeliling di antara mereka. Keadaannua sungguh sangat parah. Periuk-periuk pecah ke bumi diterjang angi. Perapian banyak yang padam. Sementara itu kemah-kemah mereka berserakan diobrak-abrik oleh badai salju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tiba-tiba telinga menangkap perintah Abu Sufyan yang berteriak mengingatkan pasukannya. “Wahai Quraisy, hendaklah kalian tetap waspada di tengah kegelapan ini. Yakinkan bahwa orang-orang yang duduk di sisi kanan kirimu benar-benar adalah kawanmu. Maka selidikilah! Aku pun secepat kilat segera memegang tangan orang yang duduk di sekitarku dan segera berseru, “Siapa dirimu?” Mereka pun menjawab, “fulan bin fulan”, Maka selamatlah aku karena mereka tidak berkesempatan menanyakan identitasku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Abu Sufyan kulihat berdiri dan berkata, “Wahai kaum Quraisy!” katanya berteriak “Kalian tidak akan dapat bertahan lagi dalam keadaan begini terus menerus. Ternak-ternak kita telah mati. Periuk-periuk tempat kita menanak nasi pecah berantakan. Tenda-tenda terbang bersama angin. Semantara itu Bani Quraidhoh telah menciderai kita. Kalian tahu, sekarang angin topan telah menghajar kita dan perbekalan kita. Karena itu, pulang sajalah kita! Aku pun hendak berangkat pulang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Selesai memberi perintah demikian, Abu Sufyan lantas memutar kudanya kearah Makkah. Dihentakkannya kekang kudanya. Kuda itu pun segera berlari menuju Makkah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Begitulah ketaatan Hudzaifah ra. yang luar biasa. <em>Sam’an wa tha’atan </em>dalam kondisi apapun, baik ringan atau berat, susah atau senang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=101&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/09/19/kisah-hudzaifah-di-medan-ahzab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istiqomah Pasca Lulus</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/21/istiqomah-setelah-lulus/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/21/istiqomah-setelah-lulus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 07:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/21/istiqomah-setelah-lulus/</guid>
		<description><![CDATA[Ada pertanyaan menarik dari seorang adik. ”Mbak, apakah kalo kerja itu ada peraturan untuk mendekin jilbab? Koq saya lihat banyak akhwat-akhwat yang setelah bekerja mereka memendekkkan jilbabnya, meskipun tetap nutup dada tapi jilbabnya jadi tambah pendek, ketat dan modis, jauh dari penampilan mereka ketika di kampus dulu.” Ada yang mau menjawab? Tergantung dimana akhwat itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=100&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Ada pertanyaan menarik dari seorang adik. ”Mbak, apakah kalo kerja itu ada peraturan untuk mendekin jilbab? Koq saya lihat banyak akhwat-akhwat yang setelah bekerja mereka memendekkkan jilbabnya, meskipun tetap nutup dada tapi jilbabnya jadi tambah pendek, ketat dan modis, jauh dari penampilan mereka ketika di kampus dulu.”</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Ada yang mau menjawab?</font></font><span id="more-100"></span></p>
<p align="justify"><!--more--><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2"><br />
Tergantung dimana akhwat itu bekerja dan bagaimana pula akhwat itu tetap istiqomah di tempat kerjanya. Selama ini alhamdulillah saya ga bermasalah dengan jilbab lebar di tempat kerja. Tapi mungkin di tempat lain beda kondisinya. Tapi yang jelas, diri kita adalah pemimpin bagi diri kita, jadi pilihan ada pada diri kita sendiri.</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Di tulisan-tulisan sebelumnya, ”Lulus=Futur?”, ”Luntur karena Futur” dan beberapa tulisan yang lain (lupa judulnya), coba dibuka lagi, sudah sering membahas tentang banyaknya aktifis dakwah yang futur setelah lulus. Banyak yang menjadi luntur, bukannya mewarnai tapi malah terwarnai oleh kondisi di sekitarnya.</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Ketika di kampus, kita bisa merasa save karena banyak temen seperjuangan, sepemikiran. Ketika kita pulang ke rumah atau terjun ke masyarakat ketika udah lulus, saat itulah teruji keistiqomahan kita. Bagaimana kita tetap istiqomah dalam menjaga prinsip-prinsip Islam dan istiqomah tetep berada dalam jalan dakwah meskipun di lingkungan itu kita hanya punya sedikit temen atau bahkan kita menjadi satu-satunya, bismillah, jadi perintis dakwah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Beberapa waktu yang lalu saat mampir ke masjid kampus tercinta, senengnya melihat adek-adek akhwat yang berjilbab lebar meskipun mereka masih belum lama jadi mahasiswa dan belum lama juga beraktivitas di dakwah kampus mereka begitu semangat menjadi panitia penyambutan mahasiswa baru di LDK dan kajian jurusannya. Dalam hati saya berdo’a, semoga mereka bisa tetep istiqomah sampai kapanpun.</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Memang seringkali dijumpai, banyak akhwat yang dulunya ketika di kampus berjilbab lebar, bergamis atau pakai rok lebar, tiba-tiba setelah lama ga ketemu setelah lulus menjadi beda penampilannya. Jilbabnya jadi semakin pendek, ada yang dililit ke belakang, ada yang model sobekan (sekarang ga hanya rok atau celana ya yang model disobek, ada model jilbab terbaru, jilbab sobekan, he..he..), ada yang pakai celana bahkan ada yang pacaran, na’udzubillah. Ada yang sudah tak lagi mau memegang amanah dengan alasan sibuk, dan bahkan tak jarang di antaranya yang tak lagi ngaji.</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Ada pula yang sekenanya aja dalam bekerja, tak peduli lagi mana yang halal dan mana yang haram. Ikut terlarut dalam korupsi mulai kecl2an sampai besar2an. Ada banyak uang basah di sekitarnya, bagaimana menyikapinya? Mungkin ada yang awalnya diem aja, “Yang penting bukan aku yang korupsi”, lama kelamaan “Gpp wis, ntar dibersihkan hartanya”. Emang semudah itu? Padahal uang yang kita hasilkan dalam bekerja akan kita makan bersama keluarga kita, akan mendarah daging dalam tubuh kita, apakah kita akan membiarkan ada sesuatu yang haram masuk ke dalam tubuh kita atau keluarga kita meskipun itu sedikit?</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Jadi teringat crita seorang akhwat yang habis lulus dari kuliahnya di akutansi. Memang banyak lowongan di bidang akutansi tapi cari yang bener-bener halal ternyata susah. Pernah suatu ketika saat sedang wawancara kerja, akhwat itu ditanyai, “Bersedia tidak membuat laporan manipulasi?” Kontan aja akhwat itu menjawab “Maaf pak, saya tidak bersedia, saya ingin bekerja dengan jujur” Akhwat itu bersyukur meskipun dia tidak diterima disitu.</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Ada banyak crita juga banyak akhwat yang ketika nglamar bekerja di perusahaan-perusahaan, mereka disyaratkan untuk melepas jilbabnya atau memendekkan jilbabnya ada pula yang mensyaratkan harus pakai celana. Apakah demi mendapatkan pekerjaan seorang akhwat akan menurutinya?<br />
Ada banyak pula perusahaan yang mensyaratkan pekerjanya harus siap lembur, ada pula yang memberlakukan sift malam jam 20.00 sampai 03.00 pagi, apakah akhsan seorang akhwat bekerja seperti itu? Apakah demi mendapat pekerjaan atau uang atau alasan yang lain seorang akhwat akan menyanggupinya?</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Kalau lihat fenomena2 ikhwah di atas, dalam hati bertanya, kemana idealisme dan prinsip-prinsip yang mereka dengung2kan selama ini. Apakah jika status mahasiswa tidak lagi disandang, prinsip-prinsip Islam juga tak lagi ditegakkan? Koq bisa ya? Sebenarnya akar permasalahannya dimana? Dan bagaimana solusinya supaya kader yang sudah lama terbina, yang sebelumnya militan tetep jadi kader militan sepanjang masa dan tak jadi luntur setelah lulus?<br />
Kembali pada tarbiyah. Memang, tarbiyah bukan segala-galanya tapi segala-galanya bisa berawal dari tarbiyah. Coba, ditelusuri, para ikhwah yang bermasalah tadi, yang menjadi luntur atau futur tadi, bagimana dengan tarbiyah atau pembinaan mereka, sehat atau tidak? Tarbiyah tidak sekedar transfer materi dari murobi ke mutarobi. Tarbiyah merupakan proses Tansyi’ah (Pembentukan), Ar-Riayah (Pemeliharaan), At-Tanmiyah (Pengembangan), At-Taujjh (Pengarahan) dan At-Tauzif (Pemberdayaan).</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Buat adik-adikku yang masih di dakwah kampus, tetaplah istiqomah dan kumpulkan bekal sebanyak mungkin dan kuatkan ruhiyah kalian untuk menghadapi dunia pasca kampus nanti. Kuatkan tarbiyah, pererat ukhuwah. Manfaatkan ‘waktu emas’ kalian selama di kampus. Kampus ibarat ‘kawah candradimuka’ untuk membekali diri terjun di kancah dakwah yang sebenarnya ketika kalian lulus nanti.</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Buat saudara-saudaraku yang telah lulus, tetaplah istiqomah dalam tarbiyah dan dakwah. Tidak ada namanya pensiun atau lulus dari dakwah. Tetaplah istiqomah menjaga prinsip-prinsip Islam yang telah kita dapatkan selama ini. Ingatlah apa yang telah kita berikan ilmunya ke binaan-binaan atau adek-adek kita dulu. Tidak ada kata terlambat.</font></font></p>
<p align="justify">“<font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Hari orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.<br />
(Ash-Shaff:2-3)</font></font></p>
<p align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Wallahu a’lam bishawab</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=100&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/21/istiqomah-setelah-lulus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Harus Tarbiyah?</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/kenapa-harus-tarbiyah-3/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/kenapa-harus-tarbiyah-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 00:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/kenapa-harus-tarbiyah-3/</guid>
		<description><![CDATA[Tarbiyah saat ini telah menjadi sebuah fenomena tersendiri di bumi khatulistiwa ini. Terbukti dengan maraknya kajian keislaman yang diadakan hamper di seluruh tempat terutama di lingkungan yang isinya orang-orang yang ‘makan bangku’ pendidikan. Di tengah kehidupan yang serba hedonisme dan cenderung bergaya ‘westlife’ ini kehadiran Tarbiyah bagaikan setetes embun di tengah kering dan gersangnya hidup. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=98&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tarbiyah saat ini telah menjadi sebuah fenomena tersendiri di bumi khatulistiwa ini. Terbukti dengan maraknya kajian keislaman yang diadakan hamper di seluruh tempat terutama di lingkungan yang isinya orang-orang yang ‘makan bangku’ pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Di tengah kehidupan yang serba hedonisme dan cenderung bergaya ‘westlife’ ini kehadiran Tarbiyah bagaikan setetes embun di tengah kering dan gersangnya hidup. Apalagi invasi pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam lewat berbagai cara telah berhasil dan sangat mewarnai kehidupan bangsa kita yang mayoritas adalah muslim. Karenanya sebagai khairu ummah kita harus melawannya dengan cara yang sama. Seluruh potensi yang kita miliki harus dioptimalkan. Dan pondasi awal untuk bisa mengoptimalkan potensi Al-Insaan yang ada dalam diri kita adalah Tarbiyah.</span><span id="more-98"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> </span><br />
<strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Pentingnya Tarbiyah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tarbiyah sangat penting sebagai imunitas dalam menghadapi serangan musuh, selain sebagai sarana penguat aqidah. Karena Tarbiyah adalah sebuah sarana untuk membentuk pribadi dambaan ummat hingga mampu membentuk komunitas Islami menuju terwujudnya kembali sebuah peradaban ideal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tarbiyah yang merupakan sebuah kemestian, keharusan bagi pada da’I Islam memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya ‘begitu indah’. <em><span> </span>Rabbaniyah</em>, sebagaimana karakter Islam itu sendiri, Tarbiyah pun bersumber dan bertujuan hanya kepada Allah. Lalu <em>tadaruj</em> atau bertahap. Dakwah adalah sebuah proses dan tahapan, sehingga Tarbiyah pun dilakukan dan berjalan secara bertahap, step by step, sehingga tidak memberatkan dan memaksakan meski juga tidak ringan. Selain itu dalam Tarbiyah juga berlaku <em>tawazun</em> alias seimbang . Artinya menempatkan segala sesuatu pada haknya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dan juga syaamil atau universal, menyentuh seluruh lini dan sisi kehidupan. Karena Tarbiyah sebagai pondasi dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamiin –‘memanusiakan’ manusia. Terakhir dalam tarbiyah tidak mengenal kata cukup atau berhenti, ia berkesinambungan (istimror) sepanjang hidup. Atau yang disebut <em>life education</em> alias <em>Tarbiyah madal hayah</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> </span><br />
<strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Proses Tarbiyah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tarbiyah dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga pendekatan; idealis, taktis, dan operacional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Pendekatan idealis </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">adalah jalan bagi pada da’i Islam, tidak ada jalan lain karena jalannya adalah jalan tarbawi yang memiliki <strong>tiga karakter mendasar.</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Pertama</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">, sulit tapi hasilnya berkualitas.Proses tarbiyah ibarat menanam pohon jati, senantiasa harus dijaga dan diperlihara sehingga akarnya tetap kuat dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencangn. Karenanya jalan Tarbawi merupakan proses pembentukan pribadi dambaan. <strong>Kedua</strong>, proses yang panjang tapi terjaga kemurniannya. Dakwah adalah jalan panjang yang tidak hanya dilalui oleh satu generasi. Akan tetapi, meski terkadang untuk mencapai target dan sasaran tertentu harus melalui sekian banyak generasi, <em>Asholah</em>-nya tetap terjaga dan <em>hammasah</em> tetap terpelihara. Tarbiyah membentuk pribadi telah yang teruji dengan panjangnya mata rantai perjalanan dakwah serta pribadi yang tak kekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. <strong>Ketiga,</strong> lambat tapi hasilnya terjamin. Dakwah ibarat kompetisi dan bukan perlombaan, untuk itu diperlukan kesabaran dan keuletan dengan ’staying power untuk mencapai target dan sasaran dengan kualitas terjamin. Kompetisi memang terlihat lama dan lambat, akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara kolektif dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah jaminan kesuksesan di akhir kompetisi. </span><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2"><span>Watak perjalanan dakwah yang lamabat harus dilihat dari proses dan tahapannya, bukan dari perangai para pelakunya (okum da&#8217;i), karena perangai yang lambar adalah sebuah kelalaian. Dan salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah lahirnya kepribadian yang integral, tidak mendua, dan tidak terbelah, yang akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya.</span></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2"><span>Setelah ketiga faktor idealis di atas terelisasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah memetaka langkah-langkah taktis, untuk menyeimbangkan luasnya medan dakwah dengan jumlah kader serta menyelaraskan dukungan massa dengan potensi Tarbiyah.</span></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2"><span>Terakhir adalah langkah strategis, dan dalam hal ini yang paling penting dalam sebuah perjalanan dakwah adalah fokus untuk menyusun barisan kader serta untuk menghindari terjadinya ”lost generation”, perlu dirumuskan strategi untuk membina kader-kader baru.</span></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2"><span>Penutup</span></font></font></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2"><span>Saat terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa di masa Abu Bakar RA., di sepertiga jazirah Arab yang selamat kader dakwah di wilayah itu dijaga dan dipelihara. Lalu pembinaan terhadap kader-kader batu yangkebanyakan adalah tawanan perang Riddah terus dijalankan hingga masa Umar bin Khattab RA. Pada saat perang Qadisiyah, kader-kader baru yang dibina mayoritas berada di garis terdepan bahkan tak jarang di antaranya kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan Islam. Dan itulah hasil Tarbiyah (QS. Ali Imran:146)</span></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">sumber: majalah Al Izzah September 2002</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=98&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/kenapa-harus-tarbiyah-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jagalah Diri Kita</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/jagalah-diri-kita/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/jagalah-diri-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 00:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/jagalah-diri-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah kita pernah mengalami malas beribadah? Terasa berat untuk tilawah atau tidak merasakan kenikmatan ketika membaca Al Qur&#8217;an atau sholat? Atau mungkin merasa susah untuk bangun malam untuk qiyamulail? Padahal jam beker bejejer-jejer, udah disetel, alarm hp juga sudah disetting tapi ketika berdering tetap terlelap dalam tidurnya, ga kedengeran akhirnya mati-mati sendiri atau bangun dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=96&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah kita pernah mengalami malas beribadah? Terasa berat untuk tilawah atau tidak merasakan kenikmatan ketika membaca Al Qur&#8217;an atau sholat? Atau mungkin merasa susah untuk bangun malam untuk qiyamulail? Padahal jam beker bejejer-jejer, udah disetel, alarm hp juga sudah disetting tapi ketika berdering tetap terlelap dalam tidurnya, ga kedengeran akhirnya mati-mati sendiri atau bangun dengan setengah sadar matiin beker trus tidur lagi. Padahal biasanya dengan mudah bisa bangun. So.. Apa yang terjadi dengan diri kita?<span id="more-96"></span><br />
Atau mungkinkita pernah merasakan mulut ini terasa berat ketika melantunkan ayat-ayat Al Qur&#8217;an atau mengucapkan salam kepada saudara kita. Atau mungkin kita pernah mengalami kikuk, ngomong gak lancar, terbata-bata alias &#8216;blank&#8217; ketika kita presentasi, ngajar atau ngisi halaqah/pengajian meskipun sebelumnya sudah mempersiapkan materi. Ada apa dengan kita?<br />
Jika hal-hal seperti itu terjadi pada diri kita, maka segeralah kita evaluasi diri. Ada apa dengan diri kita? Kondisi seperti ini jangan dibiarkan begitu saja, lama-kelamaan akhirnya terbiasa. Seperti halnya penyakit, kalau sudah ada gejala segera periksa ke dokter dan minum obat biar gak &#8216;kasep&#8217; dan segera sembuh. Begitu pula dengan ruhiyah kita, kalau sudah ada gejala osteoporosis ruhiyah seperti yang sudah dibahas di arttikel sebelumnya (lihat arsip) maka segera kita mutabaah diri kita, bagaimana hubungan kita dengan Allah dan apa yang sudah kita lakukan?<br />
Jangan-jangan kita banyak maksiat yang kita kerjakan hingga menghalangi amalan-amalan kita. Mungkin kita tidak bisa menjaga dari hal-hal yang makruh bahkan diharamkan oleh Allah sehingga menghalangi organ tubuh kita untuk beribadah kepada-Nya. Misalnya, kita menggunakan mata untuk nonton sinetron meski cuma satu atau dua jam, tunggu aja ntar kemungkinan besar malamnya kita akan susah bangun untuk qiyamulail. Mata kita akan susah untuk bangun, kalaupun bangun kita sholat dengan mata yang ngantuk. Atau mungkin kita ga bisa bangun malam karena siangnya mata kita ga bisa gadhul bashar. Karena kita ga menjaga mata kita dari hal-hal yang tidak berguna bahkan mengandung maksiat, akhirnya Allah pun tidak menjaga mata kita untuk beribadah padaNya.<br />
Selain mata, telinga juga perlu kita jaga. Bisa jadi kita susah bangun malam karena kita tidak menjaga telinga kita. Telinga kita gunakan untuk mendengarkan gosip atau musik-musik jahiliya bahkan kadang bisa terngiang-ngiang dalam memori kita karena seharian yang didengar musik-musik itu. Akhirnya malamnya telinga kita ga kedengeran dering jam beker atau alarm hp bahkan suara adzan, Na&#8217;udzubillah.<br />
Selain itu mulut tak kalah pentingnya untuk dijaga. Karena mulut itu pula yang banyak menjerumuskan manusia terutama wanita ke dalam neraka, Na&#8217;udzubillah. Karena mulut bisa menjadi sarana gibah, fitnah, caci-maki, dsb. Bisa jadi tidak lancarnya kita waktu persentasi, ngajar atau ngisi halaqah adalah karena mulut ini telah bermaksiat sebelumnya. Padahal jika ruhiyah kita fit maka kita bisa dengan mudah ngomong, kadang mengalir begitu saja apa yang kita sampaikan bisa dengan mudah memberikan contoh-contoh dan penjelasan yang sebelumnya belum terpikirkan oleh kita, tiba-tiba aja &#8216;cling&#8217; muncul di otak kita, itu semua karena ilmu dari Allah.<br />
Selanjutnya adalah hati. Ini adalah bagian terpenting yang perlu kita jaga. Hati ibaratnya pemimpin bagi organ tubuh yang lain, yang menjadi komando. Hati bisa sakit, buta bahkan mati jika semakin banyak berbuat maksiat. Hati ibarat cermin, semakin banyak bermaksiat maka semakin banyak noda titik-titik hitam di cermin itu. Atau bahkan mungkin tidak lagi titik-titik hitam tapi sudah jelaga hitam yang susah dibersihkan dan tidak bisa dipakai untuk bercermin lagi karena sudah buram. Begitu pula dengan diri kita, semakin banyak kita berbuat maksiat dan tidak bertaubat maka kita semakin terbiasa dengan kemaksiatan itu.<br />
Salah satu yang menyebabkan kematian hati adalah banyak bercanda. Bolehlah kita bercanda untuk mencairkan suasana atau menciptakan suasana ukhuwah. Tapi tetap memperhatikan adab-adabnya, perhatikan dengan siapa juga dan tidak berlebihan, apalagi ikhwan-akhwat, hati-hati!<br />
Mari kita tengok diri kita, evaluasi diri kita, jika selama ini kita belum menjaga mata, mulut, telinga, hati dan organ tubuh kita yang lain dari kemaksiatan maka segeralah kita berbenah diri, tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Seharusnya kita merasa sayang kalau tidak bisa qiyamulail meski hanya terlewat semalam. Merasa sayang pula jika tidak bisa merasakan nikmatnya beribadah. Jika masih merasa sayang, maka jagalah diri kita, dan Insya Allah Allah akan menjaga kita agar senantiasa bisa dekat dengan-Nya.<br />
Wallahu a&#8217;lam bishowab<code></code></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=96&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/jagalah-diri-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menunggu</title>
		<link>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/menunggu-2/</link>
		<comments>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/menunggu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 00:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Embun Tarbiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/menunggu-2/</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu tempat di tepian sungai, seorang pemuda memandangi seorang pemancing tua. Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing. Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap. Sesekali, tangannya membenahi posisi topi agar wajahnya tak tersorot terik sinar matahari. Sambil bersiul, ia sapu hijaunya pemandangan sekitar sungai. Sang pemuda terus memandangi si [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=95&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Di suatu tempat di tepian sungai, seorang pemuda memandangi seorang pemancing tua. Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing. Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap. Sesekali, tangannya membenahi posisi topi agar wajahnya tak tersorot terik sinar matahari. Sambil bersiul, ia sapu hijaunya pemandangan sekitar sungai.</font></font></p>
<p class="western" align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Sang pemuda terus memandangi si pemancing tua. “Aneh?” ucapnya membatin. Tanpa sadar, satu jam sudah perhatiannya tersita buat Pak Tua. Tujuannya ke pasar nyaris terlupakan. “Bagaimana mungkin orang setua dia bisa tahan berjam-jam hanya karena satu dua ikan?” gumamnya kemudian.</font></font><span id="more-95"></span></p>
<p class="western" align="justify">“<font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Belum dapat, Pak? Ucap si pemuda sambil melangkah menghampiri Pak Tua. Yang disapa menoleh, dan langsung senyum. “Belum”, jawabnya pendek. Pandangannya beralih ke si pemuda sesaat, kemudian kembali lagi ke arah genangan sungai. Air berwarna kecoklatan itu seperti kumpulan bunga-bunga yang begitu indah di mata Pak Tua. Ia tetap tak beranjak.</font></font></p>
<p class="western" align="justify">“<font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Sudah berapa lama Bapak menunggu?” Tanya sia pemuda sambil ikut memandang ke aliran sungai. Pelampung yang menjadi tanda Pak Tua terlihat tak memberikan tanda-tanda apa pun. Tetap tenang.</font></font></p>
<p class="western" align="justify">“<font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Baru tiga jam”, jawab Pak Tua ringan. Sesekali, siulannya menendangkan nada-nada tertentu. “Ada apa, Anak Muda?” tiba-tiba Pak Tua balik Tanya. Si Pemuda berusaha tenang. “Bagaimana Bapak bisa sesabar itu menunggu ikan? tanyanya agak hati-hati.</font></font></p>
<p class="western" align="justify">“<font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Anak Muda”, suara Pak Tua agak parau. “Dalam memancing, jangan melulu menatap pelampung. Karena kau akan cepat jenuh. Pandangi alam sekitar sini. Dengarkan dendang burung yang membentuk irama begitu merdu. Rasakan belaian angin sepoi-sepoi yang bertiup dari sela-sela pepohonan. Nikmatilah, kau akan nyaman menunggu!” ucap Pak Tua tenang. Dan ia pun kembali bersiul.</font></font></p>
<p class="western" align="justify">&nbsp;</p>
<p class="western" align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Tak ada kegiatan yang paling membosankan selain menunggu. Padahal hidung adalah kegiatan menunggu. Orang tua menunggu tumbuh kembang anak-anaknya. Rakyat menunggu kebijakan pemerintahnya. Para gadis menunggu jodohnya. Pegawai menunggu akhir bulannya. Semua menunggu.</font></font></p>
<p class="western" align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Namun, jangan terlalu serius menatap “pelampung” yang ditunggu. Karena energi kesabaran akan cepat terkuras habis. Kenapa tidak mencoba untuk menikmati suara merdu pergantian detak jarum penantian, angin sepoi-sepoi pergantian siang dan malam, dan permainan seribu satu pengharapan.</font></font></p>
<p class="western" align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">Nikmatilah! Insya Allah, menunggu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Seperti memandang taman indah di tepian sungai.</font></font></p>
<p class="western" align="justify">&nbsp;</p>
<p class="western" align="justify"><font face="Trebuchet MS, sans-serif"><font size="2">(sumber: Majalah SAKSI No.20 Th. VII 6 Juli 2005)</font></font></p>
<p class="western" align="justify">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/embuntarbiyah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/embuntarbiyah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/embuntarbiyah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/embuntarbiyah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/embuntarbiyah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/embuntarbiyah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/embuntarbiyah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/embuntarbiyah.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=embuntarbiyah.wordpress.com&amp;blog=994356&amp;post=95&amp;subd=embuntarbiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/16/menunggu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90a702f934a6157aef329d950bf9451f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
